keajaiban orang tua
Luqman adalah anak ke-4 dari pasangan suami/istri bernama Taufiq dan Nihaya. Luqman saat kecil dikenal oleh saudara-saudaranya dengan sebutan anak mami. Luqman ketika masih kecil (anak SD) mempunyai sahabat karib mereka adalah Riyanto (Itok), Afifudin (Mamat), Saomi, Zaenudin (Betet). Kami berempat (Itok, Mamat, Betet dan Luqman) ialah satu angkatan saat SD, sedangkan Saomi adik angkatan. Keakraban kami karena rumah yang begitu dekat dan setiap pulang sekolah kami selalu bermain bersama. Namun terkadang Luqman tidak bisa ikut bermain karena diharuskan tinggal dirumah oleh Bapak dan Ibunya, saat itu momen bulan puasa. Luqman tidak pernah ikut koprean (membangunkan orang untuk sahur) dan saat hari raya lebaran tidak boleh merayakan malam lebaran dengan takbiran keliling menaiki truck atau mobil pick-up. Ada suatu kejadian yang terpati pada diri Luqman yaitu saat duduk dibangku kelas 2 SD. Saat itu masih kental-kentalnya parpol, di daerah tempat tinggal Luqman sangatlah memegang dan fanatik terhadap partai PPP, Luqman mungkin mendapatkan imbas karena orang tua Luqman saat pilpres memilih partai PKB yang calonnya pada saat itu KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Entah dari mana teman-teman sekelas mengejek-ejek Luqman atau sebutan sekarang dibuli karena tidak memilih partai PPP dengan calon yang tidak Luqman mengerti. Luqman kebingungan dari mana teman-teman bisa tahu bahwa orang tua nya memilih atau berpihak kepada PKB, orang tuanya pun tidak mengatakan sesuatu mengenai hal demikian. Sontak selama pemilu berlangsung Luqman selalu dibuli dan dikatakan bodoh karena orang tua memilih calon presiden yang matanya tidak sempurna. Hal terparah sampai dimeja tempat saya menulis pelajaran terdapat tulisan orang PKB. Saat itu Luqman mencoba diam dan menahan sakitnya buli-an dari teman seluruh kelas. Setelah dewasa (saat ini) saya bangga akan pilihan orang tua pada waktu dulu, karena sosok Gus Dur dirindukan oleh semua orang bahkan semua kalangan umat beragama. Mengetahui Gus Dur ialah seorang Kyai dan keturunan dari ulama besar yaitu Mbah KH. Hasyim Asya'ri pendiri Nahdlatul Ulama.
Lompat saja ketika memasuki usia MTs (SMP) Luqman juga mendapatkan pengalaman entah itu buruk atau baik. Luqman ketika masih kelas 7, juga mendapatkan buli-an dari teman-temannya. Buli-an itu mencela nama Luqman karena nama panjangnya ialah M. LuqmanulHakim. Teman-teman membuli dengan sebutan Luqmandul mandul dan Inul Daratista. Sontak Luqman terdiam saja di kelas karena tidak berani melawan disebabkan yang membuli lebih banyak dari pada yang dibuli. Sesampainya rumah Luqman tak kuasa menahan kesedihan akibat buli-an ketika di sekolahan, kaka Luqman yang bernama Abdul melihat adiknya menangis tersedu-sedu di belakang rumah. Abdul "nangis nang opo?" (menangis karena apa?), bali dek sekolahan kok nangis? (pulang dari sekolahan kok menangis?) jajal wadul (coba bicarakan apa yang terjadi). Luqman terdiam sebentar akan tetapi Abdul mengetahui sebabnya. Koe diece pok? (kamu dihina?). Nek koe di ece terus sing salah udu koe, waneni bae. Ojo wedi. Intine koe ora nang posisi salah (kalau kamu di hina dan yang berbuat salah bukan kamu, beranikan saja. Jangan takut. Intinya kamu di jalur bukan yang salah. Keesokannya, terjadi lagi pembulian. Dan Luqman mencoba memberanikan diri melawan (menggertak) orang yang terakhir membulinya. Seketika didalam kelas suasana menjadi sepi dan sunyi. Luqman asal melakukan itu, tanpa memikirkan apakah akan di keroyok saat pulang sekolah mengingat teman-teman yang membuli lebih dari 4 orang. Namun keanehan terjadi lagi-lagi ketika dewasa baru menyadari tindakan dahulu itu sangatlah menakutkan bagi yang di gertak oleh Luqman. Karena dia melaporkan kepada bapaknya berhubung bapaknya pedagang es di sekolahan jadi ketika kulak es balok di rumah Luqman sang kaka (Abdul) yang berjualan saat itu di ceritakan bahwa anaknya jangan sampai di gertak lagi, maafkan saja kelakuan anak saya. Pinta bapak-bapak itu.
Komentar
Posting Komentar